Kamis, 15 Juni 2017

Ciri-Ciri Khas Orang Terkena Gangguan Jin


Setiap penyakit dapat dikenali dari gejala-gejala atau tanda-tandanya. Berikut ini saya sebutkan beberapa tanda/gejala orang yang terkena gangguan jin, apapun jenis gangguan jin tersebut.
Tanda-tanda yang saya sebutkan dibawah ini adalah hasil pengamatan, pengalaman menangani pasien. Tidak diperlukan ilmu khusus untuk mengetahui gangguan jin pada diri seseorang. Cukup cermati atau tanda point-point dibawah ini, maka dengan mudah Anda dapat memastikan ada tidaknya gangguan jin pada diri seseorang.
Bagaimana cara menggunakan daftar gejala gangguan jin ini ?
Sederhana, silahkan baca dan cermati satu per satu, lalu perhatikan diri anda atau orang yang akan anda analisa, apakah gejala-gejala ini ada pada diri anda?
Berusahalah untuk sejujur mungkin …
jika ada gejala-gejala tersebut dibawah ini ada pada diri anda, maka kemungkinan besar ada gangguan jin dalam diri anda.
Gejala – gejala Gangguan jin pada manusia
1. Gejala pada waktu tidur :
a.    Susah tidur malam, yaitu tidak bisa tidur kecuali setelah lama/bersusah payah
b.    Susah bangun, yaitu kebanyakan tidur sehingga tidak bisa melakukan ibadah –ibadah yang diinginkan
c.    Cemas, sering terbangun pada waktu malam
d.    Mimpi buruk, mimpi melihat sesuatu yang mengancamnya lalu ingin berteriak minta pertolongan tetapi tidak bisa
e.    Mimpi melihat berbagai binatang seperti : kucing, anjing, tikus, onta, kuda, monyet, serigala, harimau dll
f.     Bunyi gigi geraham beradu pada saat tidur
g.    Tertawa, menangis, teriak, mengomel pada saat tidur
h.    Merintih pada saat tidur
i.      Mimpi seolah-olah jatuh dari tempat yang sangat tinggi
j.      Berdiri dan berjalan dalam keadaan tidur dan tanpa kesadaran
k.    Mimpi berada dalam lingkungan pemakaman,didalam kuburan, tempat sampah atau jalan yang mengerikan
l.      Mimpi melihat orang aneh seperti tinggi sekali, pendek sekali, putih sekali, hitam sekali
m.   Mimpi sangat menyeramkan/melihat hantu
n.    Mimpi denga lawan jenis/sama jenis yang sam berkali-kali dan ingin bertemu dengan orang yang dimimpikan
o.    Mimpi seakan tertindih benda yang sangat berat ( Tidihan-bhs Jawa) dan sulit untuk melepaskan
p.    Mendengkur sangat keras
q.    Mimpi melihat/bertemu dengan keluarga yang sudah mati,melihat mayat
r.     Mimpi berada dalam abad lampau
s.     Mimpi terjadi peristiwa dan keesokan harinya terjadi peristiwa yang sama dalam mimpi

2. Gejala – gejala Pada wktu terjaga
a.    Sering was – was/ketakutan
b.    Suka marah – marah/ emosi tidak terkendali
c.    Dorongan kuat untuk bermaksiat
d.    Lesu dan malas sekali untuk beribadah
e.    Sulit sekali untuk khusu’ dalam sholat ( susah untuk mengingat sudah berapa rokat yang sudah kerjakan )
f.     Suka sekali menghayal, melamun, mengurung diri
g.    Selalu pusing tidak disebabkan oleh penyakit pada kedua mata, telinga, hidung, gigi, tenggorokan atau lambung
h.    Selalu berpaling dari dzikrullah, meninggalkan/meremehkan untuk menegakkan/melakukan sholat dan ketaatan yang lainnya
i.      Pikiran selalu linglung, selalu sedih tanpa sebab, jantung deg-degkan tanpa sebab,kesurupan
j.      Merasa ada yang mengikuti, mengejar ingin membunuh/mengancam, merasa akan kedatangan seseorang/beberapa orang, merasa akan dilamar seseorang, merasa ada yang mengajak bicara, mendengar bisikan – bisikan agar melakukan sesuatu ( membunuh, memperkosa/bersetubuh dengan anggota keluarga, memukul,bunuh diri dengan meloncat sungai/gedung bertingkat/melintasi rel kereta api diwaktu kereta api lewat)
k.    Sering mendengar orang memanggil namanya
l.      Sering mencium bau-bauan : wangi( kembang/bunga, menyan/dupa, busuk, anyir,dll )
m.   Melihat benda – benda seolah – olah bergerak, berputar, terbalik, miring
n.    Melakukan tindakan – tindakan yang aneh/konyol tanpa disadari
o.    tiba-tiba dapat meramal/membaca pikiran orang lain/mengetahui apa yang akan terjadi
p.    Cemas dan Paranoid ( takut yang berlebihan )
q.    Melihat penampakan makhluk halus atau merasakan keberadaan mekhluk halus
r.     Rasa sakit pada salah satu anggota badan namun setelah periksa ke dokter tidak terdapat penyakit secara medis/dokter tidak sanggup mengobatinya
Tanda-tanda diatas adalah sebagian dari tanda gangguan jin. Masih banyak lagi tanda-tanda yang belum tercantum.
Cara mengenali gangguan jin sangat beragam namun secara umum kita dapat mengenalinya melalui mimpi, kondisi fisik, perasaan/mental, kondisi rumah, latar belakang keluarga bahkan dari WAJAH orang tersebut.
Benar, kita dapat mengenali gangguan jin pada orang tersebut dari WAJAHnya, tanpa kita melihat jin itu sendiri. bagaimana bisa? Sebenarnya gangguan jin sama dengan gangguan medis. sakit medis yg kita alami sering kali dapat kita kenali tandanya dari kondsi fisik kita, warna kulit, lidah, kuku jari dan raut muka kita dan iris mata kita. Jika anda pernah membaca diagnosa penyakit dalam akupuntur, anda pasti paham hal ini. Demikianlah, halnya dengan gangguan jin.jika jin telah ada dalam diri kita maka akan nampak tandanya di wajah kita. Dengan banyak mengamati, kita akan mudah mengenalinya.

 Ruqyah Center “La Tahzan”  
Perumahan: Lemigas  Blok B No. 11 Meruyung, Limo – Depok – Jawa Barat 
HP: 081586699981 – 081219630711 



Tips Bagi Suami Istri Menuju Keluarga Yang Harmonis

Dari sekian artikel yang sudah kami tayangkan, kali ini kami mencoba memberikan tips tentang  kehidupan berumah tangga, maka artikel ini kami sampaikan   bagi suami istri agar dapat membina rumah tangga yang rukun, damai, bahagia dan sejahtera sebagaimana yang dituliskan oleh Abu Bakar al Asyari dalam bukunya Tugas Wanita Dalam Islam.

A.    Petunjuk bagi istri

1.    Ketika suami sedang berbicara, istri jangan sekali-kali meninggalkannya. Perhatikanlah apa yang dikatakan oleh suami dengan sebaik-baiknya

2.    Seorang istri tidak boleh membantah suami dengan keras. Bersikaplah bijaksana dan lemah lembut. Untuk sementara, ikutilah apa yang dikatakan oleh suami, setelah dirasa suasana memungkinkan, jika istri merasa tidak cocok atau kurang sepakat dengan apa yang dikatakan oleh suami, ajukan pertimbangan atau argumen-argumen dengan cara yang baik dan santun

3.    Jika suami marah karena sesuatu dan lain hal, hendaklah istri berlaku sabar dan diam untuk sementara, jangan dibantah atau ditentang karena dapat menimbulkan suasana yang semakin tegang dan panas sehingga dapat mengganggu keharmonisan rumah tangga

4.    Jika suami memerintahkan sesuatu, hendaknya istri segera mengerjakannya dengan tenang dan sabar tapi dengan catatan bukan perintah untuk mengerjakan sesuatu yang dilarang agama atau hukum adat

5.    Jika istri ingin bepergian kemana saja, maka harus minta izin terlebih dahulu kepada suami. Jika diizinkan baru pergi, jika tidak diizinkan maka jangan pergi

6.    Istri jangan pernah menyambut suami yang pulang dari bepergian seperti pulang dari kerja dalam keadaan bermuka masam atau dahi berkerut, berpenampilan lusuh apalagi langsung ngomel-ngomel

7.    Istri harus menghormati keluarga suami

8.    Jika kebetulan suami pernah menikah dan mempunyai anak dari istri yang lain, maka istri harus menyayangi anak (tiri) nya itu dan tidak membeda-bedakan dengan anak kandung

9.    Istri berkewajiban mendidik anak-anak nya dengan sebaik-baiknya

10.    Istri harus selalu menyertai suami ketika makan. Jika kebetulan istri telah makan telebih dahulu, maka istri tetap ikut duduk mendampingi .

11.    Ketika suami sedang makan, istri jangan membicarakan persoalan hutang atau persoalan-persoalan lain yang dapat mengganggu kenyamanan suami. Tunggulah sampai suami selesai makan untuk membicarakan sesuatu yang penting

12.    Perhatikan keperluan suami. Bangunlah terlebih dahulu dari suami. Persiapkan sarapannya dan kebutuhan-kebutuhan suami untuk berangkat kerja

13.    Dialarang keras bagi seorang istri untuk menceritakan aib/ keburukan/ kekurangan suaminya walaupun kepada sahabat karibnya

14.    Perhatikan menu masakan. Senangi suami dengan hidangan yang menggugah selera dan jangan menghidangkan makanan yang itu-itu saja

15.    Bagi seorang istri yang yang aktif dalam suatu organisasi atau berkarier, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :

1)    Bila hendak pergi rapat atau pergi ketempat kerja, selesaikan terlebih dahulu urusan rumah tangga, seperti menyiapkan masakan, pakaian suami dan anak-anak. Sebab, suatu hal yang tidak baik dan tidak seimbang jika istri aktif di luar rumah namun keadaan dalam rumah tangganya berantakan tidak terurus. Termasuk juga jangan terlalu mengandalkan pembantu untuk mengurusi rumah tangga, menyiapkan keperluan suami dan anak-anak

2)    Perlu diingat, kelalaian istri dalam memperhatikan suami dan anak-naka serta terlalu mengandalkan pembantu untuk mengurusi semuanya akan membawa akibat buruk dan memungkinkan terjadinya hal-hal yang buruk yang berakibat fatal bagi kehidupan rumah tangga

3)    Biasanya istri yang bekerja dan memiliki penghasilan sendiri cenderung merasa hebat sehingga membuatnya tidak lagi patuh kepada suami dan suka membantah apa yang dikatakan oleh suami. Ini hal yang harus dihindari sebab banyak terjadi perceraian bagi suami istri yang sama-sama bekerja disebabkan oleh sikap istri yang seperti ini.

B.    Petunjuk bagi suami

1.    Suami wajib membayar mahar atau mas kawin kepada istrinya

2.    Suami wajib menafkahi istri sesuai kemampuannya. Percayakan urusan keuangan rumah tangga kepada istri

3.    Suami harus menahan diri untuk tidak menyakiti  fisik maupun mental istri

4.    Suami harus memberikan kesempatan kepada istri untuk mengunjungi keluarganya

5.    Suami harus mempergauli istrinya dengan sebaik-baiknya. Jadikan istri sebagai teman paling dekat lahir batin, teman dalam suka dan duka

6.    Suami harus berlaku lemah lembut, dan berkata yang baik-baik kepada istri baik disaat berdua saja dirumah maupun ketika di tempat ramai

7.    Ketika memanggil istri, panggillah dengan panggilan yang baik dan menyenangkan hati. Jangan memanggil dengan panggilan buruk seperti hoi-hoi saja atau panggilan jelek lainnya

8.    Bila suatu saat istri berbuat salah sehingga memancing rasa marah, suami harus berusaha sekuat tenaga untuk menahan amarahnya itu. Kalaupun harus berkata maka berkatalah dengan kata-kata yang baik dan tidak menyakiti hati

9.    Jika suami mendapati istrinya sedang marah, maka suami sebaiknya diam saja jangan menjawab. Tinggalkan sementara tempat itu atau berusaha meredakan amarah istri dengan senda gurau sehingga pertengkaran dapat dihindari
10.    Jika suami melakukan kesalahan, maka jangan malu untuk mengakui kesalahan itu dan jangan segan-segan untuk meminta maaf. Namun jika sebaliknya istri yang berbuat salah, maka suami wajib menasehati dengan nasehat yang baik agar sitri dapat menyadari kesalahannya

11.    Jika suamu bepergian karena ada suatu keperluan, hendaknya suami  menunjukkan sikap bahwa ia selalu ingat kepada istrinya yang dibuktikan dengan menelepon, kirim SMS dan membawa oleh-oleh ketika pulang

12.    Suami jangan malas untuk memuji istinya. Misalnya ketika istri menyajikan hidangan, atau ketika ketika istri sedang berdandan

13.    Suami jangan pernah berbuat sesuatu yang dapat mengecilkan hati ataupun membuat cemburu istrinya, seperti memuji kecantikan atau memuji kelezatan masakan wanita lain

14.    Suami tidak boleh terlalu banyak menghabiskan waktu dan perhatian untuk pekerjaan, akan tetapi luangkan waktu untuk kebersamaan dan bercengkerama dengan istri dan anak-anak. Juga luangkan waktu untuk bersantai dan mengunjungi sanak keluarga

15.    Ketika pulang dari bepergian, hendaknya suami menunjukkan wajah manis dan senyuman ketika bertemu dengan istrinya

16.    Suami jangan pernah berhutang kepada orang lain tanpa sepengetahuan istrinya

17.    Di samping memberikan uang belanja kepada istrinya untuk keperluan rumah tangga sehari-hari, jika keadaan memungkinkan seorang suami juga hendaknya memberikan uang kepada istri untuk keperluan istri itu sendiri, seperti membeli pakaian, kosmetik dan lain-lain yang disukai oleh istri

18.    Suami jangan pernah mengkhianati istri dengan melakukan perbuatan serong walaupun perbuatannya itu tidak diketahui oleh istri. Sebab, bagaimanapun rapihnya menyimpan keburukan, suatu saat pasti akan ketahuan juga. Sebagaimana kata pepatah “bagai menyimpan tulang di daun keladi”.
  Ruqyah Center“La Tahzan”  
Perumahan: Lemigas Blok B No. 11, Meruyung, Limo – Depok – Jawa Barat 
HP: 081586699981 – 081219630711 



 

Ruqyah Syar'iyyah


Sering kali kita mendengar terapi pengobatan ruqyah, namun pengertian yang terlintas dibenak kita adalah terapi untuk mengusir gangguan jin. Hal ini adalah pendapat yang kurang tepat dikalangan masyarakat saat ini. Padahal, ruqyah yang sesuai syar’i adalah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disyari’atkan untuk dilakukan bagi setiap muslim pertama kali saat dirinya merasa sakit, baik sakit fisik, psikis maupun karena terindikasi terkena gangguan jin / sihir.

Apa itu Ruqyah ?
Ruqyah (dengan huruf ra’ di dhammah) adalah yaitu bacaan untuk pengobatan syar’i (berdasarkan riwayat yang shahih atau sesuai ketentuan ketentuan yang telah disepakati oleh para ulama) untuk melindungi diri dan untuk mengobati orang sakit. Bacaan ruqyah berupa ayat ayat al-Qur’an dan doa-doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tidak diragukan lagi, bahwa penyembuhan dengan Al-Qur’an dan dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa ruqyah merupakan penyembuhan yang bermanfaat sekaligus penawar yang sempurna bagi penyakit fisik, psikis dan gangguan jin/sihir, dengan kata lain Ruqyah syar’iyyah tepat untuk membantu mengobati keluhan/penyakit medis maupun non-medis. Bagaimana mungkin penyakit itu mampu melawan firman-firman Rabb bumi dan langit yang jika firman-firman itu turun ke gunung makai Ia akan memporak-porandakan gunung gunung. Oleh karena itu tidak ada satupun keluhan/penyakit melainkan ada solusi & penyembuhnya.
Allah berfirman :
§   
§         Katakanlah, Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang orang yang beriman. (Qs. Fushilat: 44).
§         Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang orang yang  beriman. (Qs. Al Isra’ 82).
§        
           Hai sekalian manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian, dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) didalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Qs. Yunus 57).

Pada masa jahiliyah, juga telah dikenal pengobatan ruqyah. Namun ruqyah kala itu banyak mengandung kesyirikan. Misalnya menyandarkan diri kepada sesuatu selain Allah, percaya kepada kesaktian jin, meyakini kesembuhan dari benda benda tertentu, dan lainnya. Setelah Islam datang, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ruqyah kecuali yang tidak mengandung kesyirikan, ‘Auf bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Dahulu kami meruqyah di masa jahiliyyah. Lalu kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang hal itu?’
Beliau menjawab, ‘Tunjukkan kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Ruqyah-ruqyah itu tidak mengapa selama tidak mengandung syirik’.” (HR. Muslim no. 2200)
Al-Qurthubi Rahimahullahu berkata, Hadits menunjukkan bahwa hukum asal seluruh ruqyah adalah dilarang, sebagaimana yang tampak dari ucapannya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari segala ruqyah.” Larangan terhadap segala ruqyah itu berlaku secara mutlak. Karena di masa jahiliyyah mereka meruqyah dengan ruqyah-ruqyah yang syirik dan tidak bisa dipahami maknanya. Mereka meyakini bahwa ruqyah-ruqyah itu berpengaruh dengan sendirinya. Ketika mereka masuk Islam dan hilang dari diri mereka yang demikian itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka dari ruqyah secara umum agar lebih mantap larangannya dan lebih menutup jalan (menuju syirik). Selanjutnya ketika mereka bertanya dan mengabarkan kepada beliau Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka mendapat manfaat dengan ruqyah-ruqyah itu, beliau memberi keringanan sebagiannya bagi mereka. Beliau bersabda, “Perlihatkan kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Tidak mengapa menggunakan ruqyah-ruqyah selama tidak mengandung syirik.”
Mencegah Lebih Baik dari Mengobati
Saudara-saudariku, sesungguhnya syari’at Islam telah sempurna sehingga tidak ada hal melainkan sudah ada keterangannya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena itu, Allah telah mengabarkan apa apa yang baik bagi seorang hamba dan apa apa yang mesti ditinggalkan dengan segala hikmah yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui.
Diantara apa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu berdzikir mengingat Allah dalam setiap keadaan, dzikir pagi dan petang hari, ketika hendak tidur, ketika masuk dan keluar rumah, saat memakai baju, dan lainnya hingga tidur lagi. Jika kita selalu menjaga dzikir-dzikir ini pada waktunya, niscaya ia akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat, mencegah segala keburukan, mendatangkan berbagai manfaat dan menolak datangnya bahaya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jika Allah akan memberi kunci kepada seorang hamba, berarti Allah akan membukakan (pintu kebaikan) kepadanya dan jika seseorang disesatkan Allah, berarti ia akan tetap berada di muka pintu tersebut.” Bila seseorang tidak dibukakan hatinya untuk berdoa dan berdzikir, maka hatinya selalu bimbang, perasaannya gundah gulana, pikiran kalut, gelisah hasrat dan keinginannya menjadi lemah. Namun bila seorang hamba selalu berdoa dan berdzikir memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai keburukan, niscaya hatinya menjadi tenang karena ingat kepada Allah. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (Qs. Ar Ra’d: 28)
Doa dan dzikir yang dilaksanakan seharusnya adalah doa dan dzikir yang ada tuntunannya dari Rasulullah. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dzikir yang paling baik dan paling bermanfaat adalah doa dan dzikir yang diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan, dilaksanakan dengan konsisten dari doa dan dzikir yang dicontohkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta orang yang melakukannya memahami makna dan maksud yang terkandung didalamnya.”
Seorang muslim seharusnya menjaga diri semaksimal mungkin dengan hal-hal yang telah disyari’atkan Allah Ta’ala yaitu menjaga AllahTa’ala dengan benar-benar mengikhlaskan diri dalam mentauhidkan-Nya, senantiasa bertaqwa, senantiasa berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, meninggalkan dan menjauhi yang tidak ada dasarnya dari Al-Qur’an dan Al-Hadist.
Ruqyah Center“La Tahzan”  
Komplk: Lemigas  Blok B No. 11 Meruyung, Limo – Depok – Jawa Barat 
HP: 081586699981 – 081219630711 


Senin, 05 Juni 2017

Ruqyah Center “La Tahzan”


 Ruqyah Center La Tahzan, adalah penyembuhan yang menggunakan methode terapi ruqyah syariah yang sesuai dengan ajaran Islam dan Sunnah. Merupakan sebuah terapi untuk mengatasi gangguan sihir, jin, santet, teluh dan bahkan beberapa penyakit Kejiwaan seperti, cemas gangguan kejiwaan, kehilangan kesadaran juga dapat di bantu kesembuhannya dengan ruqyah syariah. Ruqyah dapat dilakukan untuk ruqyah gedung, ruqyah bangunan, ruqyah rumah, ruqyah toko dan sebagainya. 
Segera kunjungi klinik Kami untuk mengkonsultasikan segala keluhan penyakit Anda. Ruqyah Center "La Tahzan" langsung ditangani oleh pakarnya, yakni, Uztad RB.Wahyu Wibowo.SE.Msi.Ak.CA.CPAi
             
  Ruqyah Center“La Tahzan”  
Perumahan: Lemigas Blok B No. 11, Meruyung, Limo – Depok – Jawa Barat 

HP: 081586699981 – 081219630711 

Minggu, 04 Juni 2017

Menuju Tujuan Hidup Menurut Islam dan Al Qur’an

Pernahkan kita bertanya, apa tujuan kita hidup di dunia ini? Atau kita hanya sekadar menjalani hidup tanpa pernah memikirkan makna dari penciptaan diri kita? Menjalani hidup tanpa repot menggali ke balik makna kehidupan itu sendiri memang cara yang paling mudah, karena kita tidak perlu memikirkan hidup sebagai hal yang sulit, cukup hanya menjalaninya secara sederhana dari hari ke hari saja. Namun, mengetahui makna kehidupan dapat membantu kita menjalani hidup dengan lebih baik lagi dan membuat kita bisa menentukan tujuan hidup agar kehidupan yang kita jalani ini lebih terarah. Tanpa tujuan, rasanya hidup menjadi agak hambar dan hanya sekedar dijalani saja, tanpa makna dan motivasi.
Motivasi Hidup
Bila tidak mengetahui tujuan hidup yang benar, kita akan kehilangan pegangan dan motivasi dalam menjalani hidup. Jadinya kita akan menjalani hidup dengan asal saja, atau berpatokan pada tujuan yang salah. Misalnya kita akan mengatakan bahwa tujuan hidup kita adalah uang. Maka segala hal yang kita lakukan semuanya akan berdasarkan uang semata. Atau jika ada yang mempunyai tujuan hidup untuk mendapatkan pangkat, jabatan serta kedudukan yang prestise di mata masyarakat, atau ada orang yang menganggap bahwa hidup ini hanya sekedar bersenang – senang saja. Orang – orang tipe ini akan mencari cara membahagiakan diri sendiri  dengan materi.
Menjalani Hidup Dengan Baik
Hanya berpatokan pada materi akan membuat kita menyia – nyiakan hidup. Juga berpotensi bahaya menjadi orang munafik. Caramenenangkan hati dan pikiran  jika ada masalah hidup adalah dengan menyelami tujuan hidup yang benar. Dalam setiap agama tentu  diajarkan bahwa orang baik masuk surga dan orang jahat masuk neraka. Jika kita menjalani hidup dengan baik, berusaha melakukan banyak kebaikan yang menjadi cara agar disukai banyak orang,  maka kita punya cirri-ciri orang baik hati  dan kelak bisa masuk surga. Menjalani hidup dengan baik hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah mengetahui dengan baik makna hidup dan tujuan dirinya diciptakan oleh Tuhan. Bagaimana cara kita mengetahui tujuan hidup kita, yaitu dengan berpegang pada agama yang kita anut.
Makna Hidup Dalam Al Qur’an
Untuk menemukan tujuan hidup, kita harus tahu lebih dulu apa makna hidup. Menemukan makna hidup yang sebenar – benarnya dapat kita cari dalilnya dalam Al Qur’an, dan hal ini hanya dapat diyakini oleh orang yang benar – benar beriman bahwa Al Qur’an adalah petunjuk yang mengandung kebenaran universal. Karena itu, dalam menemukan makna hidup kita harus berpedoman pada Al Qur’an untuk mencarinya.
1. Hidup Adalah Ujian
Dalam al Qur’an surat Al Mulk (67) ayat 2, tercantum dalil yang menyatakan bahwa: ” (Allah) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa Lagi Maha Pengampun. “
Dalam menjalani kehidupan ini, kita umat manusia akan diuji terus menerus dengan beragam cobaan dan masalah yang akan kita dapatkan. Kita akan diuji dengan harta benda, keluarga, penyakit, dan hal lainnya. Misalnya, terjadi masalah pertikaian keluarga yang disebabkanpenyimpangan social dalam keluarga, cara mengatasi masalah keluarga dan cara mendamaikan keluarga yang bertengkar  seperti itu adalah dengan tetap beribadah kepada Allah, yaitu meyakini bahwa masalah tersebut suatu saat akan kita lewati dan semua itu hanyalah cobaan atau ujian.
2. Hidup Itu Sementara
Kehidupan kita di dunia ini hanya berlangsung sementara saja. Seperti tercantum di Al Qur’an surat Al Mu’ min (40) ayat 39: ” Hai Kaumku, sesungguhnya kehidupan di dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. ” 
Suatu saat manusia pasti akan mati, seperti disebutkan dalam Al Qur’an surat Al-Anbiyaa (21) ayat 35:“Tiap – tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar – benarnya) dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan.”

3. Kehidupan di Akhirat Lebih Baik
Seperti disebutkan dalam Al Qur’an surat Adh-Dhuha (34) ayat 9“Dan sesungguhnya hari kemudian (akhirat) itu  lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan). ”
Dapat disimpulkan jika ayat ini menyatakan bahwa hidup kita di dunia kelak akan berkaitan dengan kehidupan kita di akhirat setelah kita meninggal dunia. Maka dari itu janganlah kita menganggap bahwa kehidupan hanya berpusat di dunia fana ini saja, karena yang lebih penting justru menyiapkan bekal untuk menjalani kehidupan di akhirat kelak dengan baik.
Tujuan Hidup Berdasarkan Al Qur’an
Bagi umat Islam, tujuan hidup manusia telah ditentukan dalam Al Qur’an. Dari ketiga makna hidup diatas, bisa disimpulkan bahwa semuanya mengarah kepada tujuan kita diciptakan oleh Allah, yaitu pada intinya untuk beribadah dan menjalani ibadah tersebut dengan baik. Sebagaimana telah disebutkan dalam Al Qur’an surat Adz-Dzariyaat ayat 56 yang berbunyi: ” Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. ”
Tujuan hidup kita sudah diterangkan dengan jelas melalui surat Adz-Dzariyat tersebut. Yaitu sebagai manusia ciptaan Allah, kita harus mendasarkan hidup kita kepada niatan untuk beribadah kepadaNya. Apa yang harus kita lakukan dengan tujuan hidup tersebut? Bila tujuan hidup dan keberadaan kita adalah untuk beribadah kepada pencipta kita, maka sebagai umatNya kita harus melakukan beberapa hal berikut sebagai tujuan hidup menurut islam :
1. Ibadah Wajib
Senantiasa ingat kepada Allah dengan beribadah wajib yaitu shalat lima waktu dan ibadah – ibadah lainnya, misalnya naik haji bagi yang mampu, menjauhi larangan agama, berpuasa, berzakat, sedekah, berdzikir, membaca Al Qur’an, melakukan kebaikan kepada sesama.
2. Mendalami Agama
Tidak hanya melaksanakan kewajiban dalam agama Islam, tetapi kita juga harus berusaha mempelajari semua hal tentang agama Islam secara menyeluruh, tidak hanya di permukaan saja. Pengetahuan yang hanya di permukaan tidak akan menghasilkan masyarakat beragama yang solid, melainkan akan mudah dimasuki oleh pengaruh buruk dan mempercayai paham yang salah, yang membuat kerukunan sesama umat akan tercerai berai. Cara menjadi orang tua yang baik  dan cara mendidik anak nakal yang paling baik adalah dengan pendalaman agama yang dapat menjadi benteng dari hal - hal yang buruk.



Menelisik Kedudukan Hukum Rugyah, Halal Atau Haram?

 Kajian Tafsir tentang Al-Qur’an sebagai ayat ruqyah
وننَزِّلُ مِنَ القرآنِ مَا هُوَ شفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ، وَلاَ يَزيْدُ الظالِمِيْنَ إلاَّ خَساراً
“Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian.” (QS. Al Isra’: 82)
Menurut Abu Bakar Al Jazairi, huruf MIN (من) pada ayat di atas berfungsi sebagai penjelas (مبينة) bagi huruf maushul ما, bukan ibtida’ atau zaidah. [Abu Bakar Jabir Al Jazairi, Aisaru Al Tafasir Li Kalam AL ‘Aliyyi Al Kabir. Kairo: Dar Al Hadits, 2006, Juz 2, hal. 249]
Sementara itu, Muhammad Sayyid Thanthawi mengatakan bahwa huruf MIN (من) pada ayat tersebut bukan unt tab’idh (للتبعيض) atau menunjukkan sebagian, melainkan al jins (للجنس). Maka makna ayat وننزل من القران di atas adalah
وننزل من هذا الجنس الذي هو قرآن ما هو شفاء
Dengan demikian, ayat tersebut menegaskan bahwa semua kandungan Al Qur’an merupakan obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. [Muhammad Sayyid Thanthawi, Al Tafsir Al Wasit. Kairo: Dar Al Sa’adah, 2007, Jilid 8, hal. 416.]
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan adanya dua pendapat ulama tentang penyakit yang bisa disembuhkan dengan ayat Al-Qur’an.
Pendapat pertama, bahwa Al-Qur’an itu menyembuhkan hati (القلوب) dari penyakit KEBODOHAN dan KERAGUAN.
Pendapat kedua, menyembuhkan penyakit-penyakit JASMANI dengan cara RUQYAH, ta’awwudz dan sejenisnya. [Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad Al Anshari Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkam Al Qur’an. Kairo, 1940, juz 10, hal 316]
Ketahuilah kenapa RUQYAH dimasukkan dalam KITAB FIQIH ada bahasan Thib bukan masuk dalam bab IBADAH.
Karena dalam thib dalam hal ini ruqyah memiliki unsur TAJRIBAH (hasil penelitian) yang berkembang sesuai dengan zaman juga memiliki unsur TA’ABUDIYAH dimana ada batasan syar’i (tidak syirik).
Kenapa Thib Ruqyah masuk dalam bab Fiqih bukan IBADAH, sebab ada ruang untuk ijtihad dan penelitian, itulah mengapa timbul beragam teknik pengobatan ruqyah. Sedangkan Jika masuk dalam bab ibadah maka wajib 100% menghilangkan inovasi sebab jatuhnya nanti bid’ah bahkan sesat.
Resikonya Thib Ruqyah dimasukkan ulama pada kitab FIQIH maka sampe KIAMAT pasti ada perbedaan pendapat juga pro dan kontra. Jika ada yang Tidak setuju dengan salah satu teknik hendaknya menghargai orang yang melakukannya sebab mereka juga punya dalil. Yang tidak boleh itu adalah berpecah belah dan saling bermusuhan karena hanya perbedaan pendapat dalam teknik ruqyah dari hasil tajribah yang ada sandaran ilmiyah dan syar’iyyah juga.
Saya melihat sekarang ini ada perpecahan dikalangan peruqyah dalam memahami metode ruqyah. Ada yang mengatakan bahwa ruqyah harus dengan ayat Al-Qur’an dan berbahasa arab dan katanya seorang peruqyah itu harus menguasai beragam disiplin ilmu syar’i. Sementara yang lain cara meruqyahnya memakai bahasa daerah yang tetap memohon kesembuhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan cara ini katanya TIDAK SYAR’I dan DILARANG.
Benarkah demikian?
Baiklah kita kaji bersama tentang ruqyah tersebut.
Saat ini yang lagi ngetrend adalah acara ruqyah Trans7 yang katanya paling NYUNNAH dan SYAR’IYAH, sementara yang lain adalah SESAT dan mengandung KEMUSYRIKAN. Dan hal inilah yang sebagian umat islam khususnya Ahlussunnah wal Jama’ah (ASWAJA) merasa perlu mengklarifikasi terkait ruqyah.
Ruqyah secara bahasa adalah sebuah terapi dengan membacakan jampi-jampi atau mantera-mantera. Sedangkan Ruqyah yang katanya syar’iyah yaitu sebuah terapi dengan cara membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan doa-doa perlindungan yang bersumber dari sunnah Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ruqyah dilakukan oleh seorang muslim, baik untuk tujuan penjagaan dan perlindungan diri sendiri atau orang lain, dari pengaruh buruk pandangan mata manusia dan jin (al-ain) kesurupan, pengaruh sihir, gangguan kejiwaan, dan berbagai penyakit fisik dan hati. Ruqyah juga bertujuan untuk melakukan terapi pengobatan dan penyembuhan bagi orang yang terkena pengaruh, gangguan dan penyakit tersebut.
Diantara tujuan ruqyah adalah menyembuhkan penyakit seperti yang dilakukan shahabat Anas radliyallahu ‘anhu yang mana beliau meruqyah Tsabit dengan ruqyah yang pernah digunakan Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam
Adzkar Nawawi hal 113
وروينا في ” صحيح البخاري ” عن أنس رضي الله عنه، أنه قال لثابت رحمه الله: ألا أرقيك برُقْيَة رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: بلى، قال: ” اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، مُذْهِبَ البأسِ، اشْفِ أنْتَ الشَّافِي، لا شافِيَ إِلاَّ أَنْتَ، شِفاءً لا يُغادِرُ سَقَماً “.
قلت: معنى لا يغادر: لا يترك، والبأس: الشدّة والمرض
Diantara tujuan ruqyah lagi adalah untuk membentengi seseorang dari bahaya sebagaimana yg dilakukan Rosulullah sholla Allahu ‘alaihi wa sallam terhadap kedua cucunya yaitu sayyidina Hasan dan sayyidina Husain
Al Adzkar An Nawawi hal 273
وروينا في ” صحيح البخاري ” حديث ابن عباس أن النبي (صلى الله عليه وسلم) كان يُعوِّذ الحسن والحسين: ” أُعِيذُكُمابِكَلِماتِ
اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطانٍ وَهامَّةِ وَمِنْ كُلّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ، ويقول: إنَّ أباكُما كانَ يعوّذ بهما إسماعيلَ وإسحاقَ
Ruqyah adalah terapi atau pengobatan yang sudah ada di masa JAHILIYAH. Dan ketika Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam diutus menjadi Rasulullah, maka ditetapkanlah Ruqyah yang dibolehkan dalam Islam. Allah menurunkan surat al-Falaq dan An-Naas salah satu fungsinya sebagai pencegahan dan terapi bagi orang beriman yang terkena sihir.
Diriwayatkan oleh ‘Aisyah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa membaca kedua surat tersebut dan meniupkannya pada kedua telapak tangannya, mengusapkan pada kepala dan wajah dan anggota badannya. Dari Abu Said bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dahulu senantiasa berlindung dari pengaruh mata jin dan manusia, ketika turun dua surat tersebut, Beliau mengganti dengan keduanya dan meninggalkan yang lainnya” (HR At-Tirmidzi).
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ كُنَّا فِي مَسِيرٍ لَنَا فَنَزَلْنَا فَجَاءَتْ جَارِيَةٌ فَقَالَتْ إِنَّ سَيِّدَ الْحَيِّ سَلِيمٌ (لذيغ) وَإِنَّ نَفَرَنَا غَيْبٌ فَهَلْ مِنْكُمْ رَاقٍ فَقَامَ مَعَهَا رَجُلٌ مَا كُنَّا نَأْبُنُهُ بِرُقْيَةٍ فَرَقَاهُ فَبَرَأَ فَأَمَرَ لَهُ بِثَلَاثِينَ شَاةً وَسَقَانَا لَبَنًا فَلَمَّا رَجَعَ قُلْنَا لَهُ أَكُنْتَ تُحْسِنُ رُقْيَةً أَوْ كُنْتَ تَرْقِي قَالَ لَا مَا رَقَيْتُ إِلَّا بِأُمِّ الْكِتَابِ قُلْنَا لَا تُحْدِثُوا شَيْئًا حَتَّى نَأْتِيَ أَوْ نَسْأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ ذَكَرْنَاهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ وَمَا كَانَ يُدْرِيهِ أَنَّهَا رُقْيَةٌ اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ رواه البخاري ومسلم)
Dari Abu Said al-Khudri RA berkata, “Ketika kami sedang dalam suatu perjalanan, kami singgah di suatu tempat. Datanglah seorang wanita dan berkata, “ Sesungguhnya pemimpin kami terkena sengatan, sedangkan sebagian kami tengah pergi. Apakah ada di antara kalian yang biasa meruqyah?”
Maka bangunlah seorang dari kami yang tidak diragukan kemampuannya tentang ruqyah. Dia meruqyah dan sembuh. Kemudian dia diberi 30 ekor kambing dan kami mengambil susunya. Ketika peruqyah itu kembali, kami bertanya,
”Apakah Anda bisa? Apakah Anda meruqyah?“
Ia berkata, ”Tidak, saya tidak meruqyah kecuali dengan Al-Fatihah.”
Kami berkata, “Jangan bicarakan apapun kecuali setelah kita mendatangi atau bertanya pada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Ketika sampai di Madinah, kami ceritakan pada nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam Dan beliau berkata,
“Tidakkah ada yang memberitahunya bahwa itu adalah ruqyah? Bagilah (kambing itu) dan beri saya satu bagian.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Auf bin Malik al-Asyja’i berkata,
”Dahulu kami meruqyah di masa jahiliyah,
dan kami bertanya, “ Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu?”
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Perlihatkan padaku ruqyah kalian. Tidak apa-apa dengan ruqyah jika tidak mengandung kemusyrikan .” (HR Muslim)
Hukum Ruqyah
Para ulama berpendapat pada dasarnya ruqyah secara umum DILARANG.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ
“Sesungguhnya ruqyah (mantera), tamimah (jimat) dan tiwalah (pelet) adalah kemusyrikan.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al-Hakim).
مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ
“Barangsiapa menggantungkan sesuatu, maka dirinya akan diserahkan kepadanya.” (HR Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud dan Al-Hakim)
عن عِمْرَان قَالَ: قَالَ نَبِيّ اللّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- : يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفاً بِغَيْرِ حِسَابٍ” قَالُوا: وَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللّهِ؟ قَالَ: “هُمُ الّذِينَ لاَ يَكْتَوُونَ، وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ وَلاَ يَسْتَرْقُونَ وَعَلَى رَبّهِمْ يَتَوَكّلُونَ
Dari Imran berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
” Akan masuk surga dari umatku 70 ribu dengan tanpa hisab”.
Sahabat bertanya, “Siapa mereka wahai Rasulullah ?”
Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” Mereka adalah orang yang tidak berobat dengan kay (besi), tidak minta diruqyah dan mereka bertawakkal pada Allah”. (HR Bukhari dan Muslim).
Para ulama banyak membicarakan hadits ini, di antaranya yang terkait dengan ruqyah. Ulama sepakat bahwa ruqyah secara umum DILARANG, kecuali tidak ada unsur kemusyrikan.
ما توكل من استرقى
”Tidaklah bertawakkal orang yang minta diruqyah.” (HR At-Tirmidzi)
Adapun selain itu, seperti berlindung dengan Al-Qur’an, Asma Allah Ta’ala dan ruqyah yang telah diriwayatkan (dalam hadits), maka itu TIDAK DILARANG. Dan dalam konteks ini Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang yang meruqyah dengan Al-Qur’an dan mengambil upah :
من أخذ برقية باطل فقد أخذتُ برقية حق
”Orang mengambil ruqyah dengan batil, sedang saya mengambil ruqyah dengan benar. ” (HR At-Tirmidzi)
"Jadi dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa meruqyah dengan ayat-ayat Al-Qur’an, Asma Allah atau dengan do’a-do'a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak mengandung KEMUSRIKAN meskipun tidak dengan bahasa arab itu DIBOLEHKAN."
Ruqyah Dzatiyah
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai kesempatan menyampaikan kepada para sahabatnya untuk melakukan ruqyah dzatiyah, yaitu seorang mukmin melakukan penjagaan terhadap diri sendiri dari berbagai macam gangguan jin dan sihir. Hal ini lebih utama dari meminta diruqyah org lain. Dan pada dasarnya setiap orang beriman dapat melakukan ruqyah dzatiyah.
Beberapa hadits di bawah adalah anjuran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang beriman untuk melakukan ruqyah dzatiyah
“من قرأ آية الكرسي في دبر الصلاة المكتوبة كان في ذمة الله إلى الصلاة الأخرى”
“Siapa yg membaca ayat Al-Kursi setelah shalat wajib, maka ia dalam perlindungan Allah sampai shalat berikutnya” (HR At-Tabrani).
عن عبد الله بن خُبَيْبٍ عن أَبيهِ قالَ: “خَرَجْنَا في لَيْلَةٍ مَطِيرَةٍ وظُلْمَةٍ شَدِيدَةٍ نَطْلُبُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يُصَلّي لَنَا قالَ فأَدْرَكْتُهُ فقالَ: قُلْ. فَلَمْ أَقُلْ شَيْئاً. ثُمّ قالَ: قُلْ فَلَمْ أَقُلْ شَيْئاً. قالَ قُلْ فَقُلْتُ مَا أقُولُ قال قُلْ: قُلْ {هُوَ الله أَحَدٌ} وَالمُعَوّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِي وتُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلّ شَيْء”.
Dari Abdullah bin Khubaib dari bapaknya berkata,
”Kami keluar di suatu malam, kondisinya hujan dan sangat gelap, kami mencari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengimami kami, kemudian kami mendapatkannya.”
Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ” Katakanlah”. “ Saya tidak berkata sedikit pun”.
Kemudian beliau berkata, “Katakanlah.”
“Sayapun tidak berkata sepatahpun.”
“Katakanlah, ”
Saya berkata, ”Apa yang harus saya katakan?“
Rasul bersabda, ”Katakanlah, qulhuwallahu ahad dan al-mu’awidzatain ketika pagi dan sore tiga kali, niscaya cukup bagimu dari setiap gangguan.” (HR Abu Dawud, At-tirmidzi dan an-Nasa’i)
مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
“Siapa yang membaca dua ayat dari akhir surat Al-Baqarah setiap malam, maka cukuplah baginya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
مَنْ نَزَلَ مَنْزلاً ثُمَّ قالَ: أعُوذُ بِكَلِماتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرّ مَا خَلَقَ، لَم يَضُرُّهُ شَيْءٌ حَتى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذلكَ”.‏
“Siapa yang turun di suatu tempat, kemudian berkata, ‘A’udzu bikalimaatillahit taammaati min syarri maa khalaq’, niscaya tidak ada yang mengganggunya sampai ia pergi dari tempat itu.” (HR Muslim)
Oleh karena itu orang beriman harus senantiasa melakukan ruqyah dzatiyah dalam kesehariannya. Hal-hal yang harus dilakukan dengan ruqyah dzatiyah adalah:
1. Memperbanyak dzikir dan doa yang ma’tsur dari Nabi SAW, khususnya setiap pagi, sore dan setelah           selesai shalat wajib.
2. Membaca Al-Qur’an rutin setiap hari
3. Meningkatkan ibadah dan pendekatan diri kepada Allah.
4. Menjauhi tempat-tempat maksiat
5. Mengikuti majelis ta’lim dan duduk bersama orang-orang  sholeh
Mengambil Upah dari Ruqyah
Para ulama sepakat membolehkan mengambil upah dari mengobati dengan cara ruqyah syar’iyah. Bahkan dalam hadits terkenal tentang para sahabat yang meruqyah kepala suku yang terkena bisa ular, Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “ Saya tidak bersedia meruqyah sampai kalian memberiku upah”. Sehingga dalam kitab Shahih Al-Bukhari, salah satunya memasukkan hadits ini dalam bab al-ijarah. Dalam ujung hadits Abu Said Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ
“Bagilah (upah itu), dan beri aku satu bagian.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Sedangkan upaya menjadikan pengobatan ruqyah sebagai usaha rutin dan tafarrugh, maka hukumnya sama dengan mengambil upah dari pengobatan yang lainnya. Hal ini karena pengobatan ruqyah membutuhkan waktu yang cukup dan dilakukan secara profesional. Begitu juga para peruqyah dituntut senantiasa meningkatkan ilmu dan keikhlasan.
Namun demikian karena pengobatan ruqyah adalah bagian dari fardhu kifayah dan kebutuhan ummat, maka sebaiknya jangan dijadikan sarana komersial atau bisnis murni, demikian halnya dengan pengurusan jenazah, khutbah, imam shalat, adzan dan iqomah, mengajarkan Al-Qur’an, bimbingan haji dan lain-lain.
والله أعلم بالصـواب ,وهو الموفق إلى أقوم الطريق ,والحمد لله رب العالمي


Ciri-Ciri Khas Orang Terkena Gangguan Jin

Setiap penyakit dapat dikenali dari gejala-gejala atau tanda-tandanya. Berikut ini saya sebutkan beberapa tanda/gejala orang yang terke...